Cara Mengoptimalkan Channel Manager untuk Revenue
Dalam revenue management modern, kecepatan memperbarui tarif sering kali menjadi faktor pembeda antara hotel yang memperoleh revenue optimal dan hotel yang kehilangan peluang penjualan.
Tips, strategi, dan insight seputar hotel management, teknologi, dan industri perhotelan Indonesia
Menampilkan 9 dari 697 artikel
Dalam revenue management modern, kecepatan memperbarui tarif sering kali menjadi faktor pembeda antara hotel yang memperoleh revenue optimal dan hotel yang kehilangan peluang penjualan.
Hotel yang memperoleh sebagian besar reservasinya dari OTA memang dapat menikmati okupansi yang tinggi. Namun setiap reservasi membawa biaya distribusi yang secara langsung mengurangi margin keuntungan.
Dalam banyak hotel, overtime baru mendapat perhatian ketika angka payroll melewati budget. Management kemudian mengambil langkah sederhana: βKurangi lembur.β Masalahnya, overtime adalah output dari sistem operasional. Jika housekeeping terus kekurangan tenaga pada high occupancy, Front Office menghadapi peak arrival tanpa coverage yang cukup, atau roster tidak mengikuti workload, pembatasan overtime hanya memindahkan masalah ke tempat lain. Akibatnya bisa muncul: Overtime β tetapi: Service Delay β Employee Fatigue β Complaint β Turnover β Karena itu target yang lebih tepat bukan sekadar menghilangkan overtime, melainkan mengendalikan overtime yang tidak produktif dan memahami overtime yang memang diperlukan oleh demand.
Di banyak hotel, employee yang terlihat paling sibuk sering dianggap paling produktif. Padahal busy β productive. Seorang room attendant yang menghabiskan waktu 9 jam di area kamar belum tentu lebih produktif daripada employee yang menyelesaikan workload serupa dalam 7 jam dengan kualitas yang sama. Begitu pula Front Office. Jumlah transaksi yang tinggi tidak otomatis menunjukkan produktivitas jika guest harus menunggu lama atau terjadi banyak kesalahan. Produktivitas hotel harus dilihat sebagai hubungan antara: Output + Labor Input + Quality + Cost Bukan sekadar aktivitas.
operasional hotel, manpower sering menjadi salah satu komponen biaya terbesar sekaligus salah satu faktor paling menentukan kualitas service. Masalahnya muncul ketika staffing hanya ditentukan berdasarkan kebiasaan: βTahun lalu jumlah staff kita segini, tahun ini kurang lebih sama.β Pendekatan tersebut dapat menghasilkan dua kondisi. Saat demand rendah, hotel mengalami idle labor dan labor cost menjadi terlalu berat. Saat demand meningkat, hotel mengalami understaffing, overtime, service delay, dan employee fatigue. Manpower planning yang matang bekerja dengan logika berbeda: Forecast Demand β Workload β Productivity β Labor Hours β FTE β Shift β Labor Cost β Service Output Dengan framework tersebut, manpower menjadi bagian dari business planning, bukan sekadar urusan recruitment dan HR administration.
Pertanyaan βHotel 100 kamar idealnya punya berapa staff?β terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa berbeda jauh antar-property. Hotel 100 kamar dengan restoran 24 jam, ballroom, swimming pool, room service, laundry, dan full-service operation memiliki kebutuhan manpower berbeda dengan hotel 100 kamar yang hanya menawarkan room-only accommodation. Bahkan dua hotel dengan fasilitas yang sama dapat memiliki staffing level berbeda karena: occupancy; room mix; service standard; operating hours; outsourcing; automation; productivity; business mix; banquet activity. Karena itu, jumlah staff ideal bukan angka tetap. Yang lebih relevan bagi management adalah mencari economic staffing level: jumlah dan struktur tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan operasional dengan service standard yang ditargetkan tanpa menciptakan labor cost yang tidak produktif.
Dalam banyak hotel, pertanyaan tentang manpower masih sering dimulai dari angka sederhana: βHotel ini punya berapa kamar?β Padahal dua hotel dengan jumlah kamar sama belum tentu membutuhkan jumlah staff yang sama. Hotel 100 kamar dengan occupancy 85%, restoran yang ramai, banquet aktif, dan service standard tinggi akan memiliki kebutuhan tenaga kerja berbeda dengan hotel 100 kamar yang occupancy-nya 55%, memiliki outlet terbatas, dan menggunakan model operasional lean. Bahkan dalam hotel yang sama, kebutuhan manpower dapat berubah setiap hari. 100 kamar occupied tidak selalu menghasilkan workload yang sama dengan 100 kamar departure. Occupancy 70% juga tidak otomatis berarti kebutuhan manpower 70% dari kapasitas maksimum. Karena itu, manpower planning hotel seharusnya dimulai dari: Demand β Workload β Productivity β Labor Hours β FTE β Labor Cost Bukan sekadar: Room Count β Headcount.
Di hotel, jadwal kerja bukan sekadar tabel berisi nama employee dan jam masuk. Roster menentukan berapa banyak tenaga kerja yang tersedia ketika tamu datang, kamar harus dibersihkan, restoran mencapai peak hour, banquet berjalan, atau engineering menerima emergency call. Masalah muncul ketika roster dibuat berdasarkan kebiasaan. βBulan lalu shift-nya seperti ini.β βDepartment ini biasanya masuk 10 orang.β βSetiap weekend memang full team.β Pendekatan tersebut dapat membuat hotel membayar tenaga kerja pada saat workload rendah, sementara kekurangan manpower justru terjadi ketika demand sedang tinggi. Jadwal kerja hotel yang baik harus menjawab tiga hal: Berapa orang yang dibutuhkan? Kapan mereka dibutuhkan? Apakah workload tersebut sebanding dengan labor hours yang dibayar?
Hotel beroperasi ketika sebagian besar bisnis lain sudah tutup. Front Office harus tetap tersedia pada tengah malam. Housekeeping mencapai workload tinggi setelah departure. Restaurant dapat mengalami lonjakan demand saat breakfast. Engineering harus memiliki coverage untuk menangani emergency kapan pun terjadi. Karena itu, desain shift memiliki konsekuensi langsung terhadap service coverage, labor productivity, overtime, employee fatigue, dan labor cost. Kesalahan desain shift biasanya tidak terlihat pada hari pertama. Dampaknya muncul melalui pola: Shift tidak sesuai demand β manpower idle atau shortage β overtime β fatigue β service error β complaint β turnover. Maka ukuran shift yang efektif bukan sekadar apakah semua posisi sudah terisi. Pertanyaan manajemen yang lebih relevan: Apakah manpower tersedia pada waktu ketika workload benar-benar terjadi?